TERberat meski tidak ada yang BERAT sebelumnya

by R.Larasati

Wisuda seharusnya dapat menjadi sebuah momen yang membuat air mata bermakna haru daripada sedih. Perjuangan menyelesaikan tugas akhir yang berujung pada perayaan wisuda membuat semua orang bahagia, saya pun demikian. Tanpa mengurangi kebahagiaan akan keberhasilan menyelesaikan karya tulis penelitian saya yang tidak hanya menguras waktu, tenaga, uang, sampai keringat bahkan sampai meneteskan darah, saya sangat sangat sangat bahagia dapat juga merasakan nikmatnya menjadi wisudawati🙂 Namun ada cerita lain selama masa Gladi Resik dan hari H wisuda yang membuat air mata meski tidak mengalir tetapi beberapa kali mengembang dan sekuat tenaga saya redam.

Graha Widya Wisuda, 3 Juli 2012. Gladi resik wisuda seharusnya dimulai pukul 13.00 wib, namun karena harus mencari keperluan untuk wisuda esok hari, saya terlambat masuk. Awalnya proses yang saya jalani normal seperti yang lain. Saya dan teman – teman sangat menikmati pertemuan kami kembali, setelah sekian lama terpisah jarak dan waktu. Air mata mulai terkembang setelah lagu-lagu persembahan dari paduan suara menggema, semua memang bukan lagu – lagu sedih yang memancing air mata, namun alunan lagu yang mereka lantunkan membawa suasana kosong yang seketika mengingatkan saya pada sosok yang raganya tidak dapat menghadiri perayaan wisuda besok. Beberapa kali saya harus menyembunyikan air mata dari teman – teman karena tidak ingin mengganggu perhatian mereka. Sulit rasanya mengisi suasana kosong yang terjadi, karena sesungguhnya beragam hal sudah saya lakukan, tetapi air mata terus berkembang bahkan sampai saya menuliskan cerita ini di dalam kamar🙂

Graha Widya Wisuda, 4 Juli 2012. Prosesi yang hampir sama seperti yang terjadi pada hari kemarin, namun hari ini tidak hanya wisudawan dan wisudawati yang mengikuti rangkaian acaranya, tetapi juga para Orang tua dan Wali. Bangga, satu kata yang pasti tercipta dihati para orang tua dan wali yang hadir, karena bagaimanapun keberhasilan seorang anak menyelesaikan pendidikan di tingkat sarjana merupakan mimpi yang menjadi nyata bagi mereka. Kami para wisudawan pun merasakan kebanggaan yang sama meski dengan alasan yang berbeda – beda. Saat satu persatu lagu persembahan dilantunkan, beberapa kali saya harus melakukan hal yang sesungguhnya tidak penting sama sekali hanya untuk menyembunyikan air mata yang mulai terkembang dan juga untuk meredam emosi kehilangan yang tiba – tiba tercipta.

Perasaan kehilangan yang selama ini berusaha saya sembunyikan pada akhirnya menjadi beban berat yang harus saya lalui selama prosesi wisuda berlangsung. Kenangan akan sosok yang selalu menantikan dapat hadir pada akhirnya tidak dapat hadir, sosok yang setiap saya pulang ke rumah selalu bertanya “kapan sidang skripsi?” atau bertanya “persiapan untuk wisuda apa? biar disiapkan dari sekarang.” pada akhirnya menjadi satu-satunya sosok yang saya harapkan hadir tidak hadir. Sedih tentu saja, tapi berandai – andai untuk sesuatu yang tidak mungkin terjadi hanya akan menjadi dosa.

Keberhasilan menahan air mata selama prosesi wisuda tidak terjadi saat tiba dirumah. Air mata yang semula ditahan untuk tidak keluar meski sudah terus – menerus mengembang menjadi tidak terkendali saat ibu berkata ” tadi sempet sedih ngebayangin bapak hadir di wisuda kamu”. Luluh sudah semua kekuatan saat itu, pedih karena kehilangan kembali terasa, air mata sulit untuk berhenti mengalir. Wisuda yang banyak digambarkan orang sebagai prosesi yang banyak diisi dengan rasa bahagia bercampur dengan rasa sedih untuk saya. Wisuda yang banyak digambarkan orang sebagai prosesi yang selalu menyatukan keluarga memberi rasa kehilangan pada saya. Dan wisuda yang saya jalani menjadi wisuda terberat meski tidak ada wisuda sebelumnya.

#Ya Allah .. pemilik jiwa setiap makhluk, betapa jiwa ini teramat rapuh, jika bukan karena kekuatanMU, tidak mungkin jiwa ini bertahan.

Ditulis dengan disertai air mata haru di Cileungsi, pada tanggal 6 Juli 2012🙂