Zonasi Cagar Biosfer

by R.Larasati

Pengelolaan suatu Cagar Biosfer dibagi menjadi 3 zona yang saling berhubungan seperti terlihat pada Gambar dibawah yaitu zona inti (core area), zona penyangga (buffer area), dan zona transisi (transition area).

  • Area inti (Core Area) adalah kawasan konservasi atau kawasan lindung dengan luas yang memadai, mempunyai perlindungan hukum jangka panjang, untuk melestarikan keanekaragaman hayati beserta ekosistemnya.
  • Zona penyangga (Buffer Zone) adalah wilayah yang mengelilingi atau berdampingan dengan area inti dan teridentifikasi, untuk melindungi area intidari dampak negatif kegiatan manusia. Dimana hanya kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan tujuan konservasi yang dapat dilakukan.
  • Area transisi (Transition Zone) adalah wilayah terluar dan terluas yang mengelilingi atau berdampingan dengan zona penyangga. Kegiatan-kegiatan pengelolaan sumberdaya alam secara lestari dan model – model pembangunan berkelanjutan dipromosikan dan dikembangkan.

Secara fisik, cagar biosfer harus terdiri atas tiga elemen, yaitu:  (i) satu atau lebih zona inti yang merupakan kawasan lindung bagi konservasi keanekaragaman hayati, pemantauan ekosistem, dan tempat kegiatan penelitian yang tidak merusak serta kegiatan lainnya yang berdampak rendah (seperti pendidikan). Pengelolaan zona inti serupa dengan pengelolaan untuk cagar alam. Peraturan pengelolaan untuk kawasan suaka alam (cagar alam dan suaka marga satwa) serta kawasan pelestarian alam (taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam) tercantum dalam UU No. 5 Tahun 1990 dan Peraturan pemerintah (PP) No. 68 Tahun 1998 tentang kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam.

(ii) Zona penyangga merupakan kawasan yang mengelilingi atau berdampingan dengan zona inti. Tujuan utama zona penyangga adalah menjamin perlindungan zona inti. Konsep zona penyangga versi UNESCO selaras dengan konsep daerah penyangga di Pasal 16 ayat (2) dalam UU No. 5 Tahun 1990 yakni kawasan penyangga adalah kawasan di luar kawasan suaka alam yang dibebani hak untuk menjaga keutuhan kawasan suaka alam.

 (iii) Zona transisi, atau zona peralihan. Zona transisi berkaitan dengan daerah pembangunan berkelanjutan yang mungkin berisi kegiatan pertanian, pemukiman dan pemanfaatan lain (Soedjito   2004).. Salah satu kekuatan konsep cagar biosfer adalah fleksibilitas dan kreatifitasnya dalam berbagai situasi. Hal ini semata karena pendekatan dari konsep cagar biosfer dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan dari wilayah yang bersangkutan.

DAFTAR PUSTAKA

Soedjito H.  2004.  Pedoman Pengelolaan Cagar Biosfer Indonesia. Jakarta : Panitia Nasional MAB Indonesia,  LIPI.