Cagar Biosfer

by R.Larasati

Cagar biosfer adalah situs yang ditunjuk oleh berbagai negara melalui kerjasama program Man and Biosphere (MAB)-UNESCO untuk mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan, berdasarkan pada upaya masyarakat lokal dan ilmu pengetahuan yang handal. Cagar biosfer adalah kawasan yang ideal untuk menguji dan mendemonstrasikan pendekatan – pendekatan yang mengarah kepada pembangunan berkelanjutan pada tingkat regional (UNESCO  2003). Usulan penetapan cagar biosfer diajukan oleh pemerintah nasional. Setiap calon cagar biosfer harus memenuhi kriteria tertentu dan sesuai dengan persyaratan minimum sebelum dimasukan kedalam jaringan dunia (MAB Indonesia  2011).

Konsep cagar biosfer mulai dikembangkan pada tahun 1974. Dalam konsep ini program MAB akan diuji, diperbaiki, didemonstrasikan , dan diimplementasikan (UNESCO  1984 ; Batisse 1986 dan 1996 dalam Soedjito  2004). Lokasi cagar biosfer ditunjuk oleh UNESCO selain berdasarkan  kesesuaian tujuan juga karena keterwakilan ekologi dan biogeografinya.  Penunjukkan Cagar Biosfer pun melalui prosedur khusus. Pada tahun 1976 jaringan cagar biosfer dunia (The World Network of Biosphere Reserves) diluncurkan dan berkembang dari 324 cagar biosfer di 82 negara pada tahun 1995 (UNESCO 1996a dalam Soedjito   2004) menjadi 430 di 95 negara pada tahun 2002.

Program MAB dibentuk untuk meningkatkan kualitas hubungan antara manusia dengan lingkungannya yang didasarkan pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satunya adalah untuk mengatasi permasalahan pemanfaatan sumber daya hayati yang dirasakan dampaknya serta  menimbulkan “biodiversity lost”, kemunduran kualitas lingkungan dan tidak terencananya tataguna lahan. Dalam memenuhi harapan yang ditunjukkan kepada cagar biosfer tersebut, komite nasional program MAB Indonesia menyusun program yang mengacu pada perjanjian – perjanjian yang telah dibuat diantaranya : (i) strategi Seville yang merekomendasikan kegiatan aksi yang terarah pada beberapa prioritas di tingkat internasional, nasional, dan lokal yaitu memanfaatkan cagar biosfer untuk konservasi SDA dan budaya, sebagai model pengelolaan

lahan dengan pendekatan untuk pembangunan yang berkelanjutan, dan untuk penelitian, monitoring, pendidikan, dan pelatihan, serta implementasi konsep cagar biosfer, (ii) program MAB Internasional yang mengimplementasi kegiatan MAB menjadi dua “main line of action” (MLA) yaitu MLA-1 mengenai pengelolaan sumber daya alam dan masalah pembangunan dan MLA-2 mengenai usaha untuk memajukan dasar ilmiah, pengembangan aktivitas sumber daya manusia dan komunikasi. Dan (iii) Madrid action plan yang menyatakan cagar biosfer harus mampu menjawab tantangan perubahan iklim secara global, serta memberikan jasa ekosistem yang lebih baik, dengan antisipasi adanya urbanisasi (Purwanto  2008).

Soedjito (2004) mendefinisikan cagar biosfer sebagai suatu kawasan konservasi ekosistem daratan atau pesisir yang diakui oleh Program MAB – UNESCO untuk mempromosikan keseimbangan hubungan antara manusia dan alam. Cagar biosfer melayani perpaduan tiga fungsi yaitu :

  1. Kontribusi konservasi lansekap, ekosistem, jenis, dan plasma nutfah.
  2. Menyuburkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan baik secara ekologi maupun budaya.
  3. Mendukung logistik untuk penelitian, pemantauan, pendidikan dan pelatihan yang terkait dengan masalah konservasi dan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal, regional, nasional, maupun global. Kumpulan cagar biosfer di dunia membentuk Jaringan Cagar Biosfer Dunia, yang didalamnya dipromosikan program pertukaran informasi, pengalaman, dan personel terutama di antara cagar biosfer dengan tipe ekosisten yang sama dan atau dengan pengalaman yang sama dalam memecahkan masalah konservasi dan pembangunan.

Karakteristik utama cagar biosfer dijelaskan oleh UNESCO (2003) yaitu sebagai berikut :

  1. Mempunyai pola zonasi untuk konservasi dan pembangunan.
  2. Memfokuskan pada arah pendekatan berbagai pemangku kepentingan yang secara khusus menekankan partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan.
  3. Membentuk suatu metode untuk penyelesaian konflik pemanfaatan sumber daya alam melalui dialog.
  4. Mengintegrasikan keanekaragaman budaya dengan keanekaragaman hayati, terutama mengenai peran pengetahuan tradisional dalam pengelolaan ekosistem.
  5. Mendemonstrasikan kebijakan – kebijakan yang sesuai dengan hasil penelitian dan diikuti oleh kegiatan pemantauan.
  6. Merupakan lokasi untuk pendidikan dan pelatihan.
  7. Berpartisipasi dalam jaringan dunia.

 Peta kawasan konservasi indonesia : 1.Cagar Biosfer (CB) Siberut; 2.CB Gunung Leuser; 3.CB Tanjung Putting; 4.CB Cibodas; 5.CB Lorelindu; 6.CB Komodo; 7.CB Giam Siak Kecil-Bukit Batu

(dimodifikasi dari Kementrian Kehutanan Republik Indonesia  2011)

Keberadaan cagar biosfer di Indonesia dapat meningkatkan upaya konservasi tidak hanya di daerah – daerah yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi, tetapi juga di daerah – daerah lainnya di sekitar kawasan konservasi yang juga merupakan kawasan pembangunan.

Setiap 10 tahun UNESCO mengadakan evaluasi terhadap penerapan konsep cagar biosfer di setiap Negara. Oleh karena itu apabila cagar – cagar biosfer yang ada di Indonesia tidak menerapkan konsep dan program cagar biosfer, maka predikat pengakuan sebagai kawasan cagar biosfer dapat dicabut (Purwanto  2008).  Peningkatan usaha konservasi juga didukung oleh bantuan dana dari para pendonor yang peduli pada usaha – usaha konservasi di wilayah cagar biosfer. Laporan tahun 2010 di Cagar Biosfer Cibodas menyebutkan bahwa ada bantuan dana sebesar 591,630 US$ dari ITTO (The International Tropical Timber Organization) untuk tahun 2011-2012 (MAB Indonesia  2011).

DAFTAR PUSTAKA

[UNESCO].  2003. Biosphere Reserves. On Ground Testing For Sustainable Development. Jakarta : Graha Info Kreasi.

Man and Biosphere Indonesia. 2011.  Cagar Biosfer Indonesia.  [terhubung berkala]. http://www.mab-indonesia.org/tentang.php?i=biosfer. [10 Mei 2011].

Soedjito H.  2004.  Pedoman Pengelolaan Cagar Biosfer Indonesia. Jakarta : Panitia Nasional MAB Indonesia,  LIPI.

Purwanto Y.  2008.  Rencana Pengelolaan Cagar Biosfer Cibodas.  Sarasehan Pengelolaan Cagar Biosfer Cibodas Sebagai Daerah Tujuan Wisata Alam, Hotel Pangrango 2 Bogor, 23 Desember 2008.