Taman Nasional Lore Lindu

by R.Larasati

Taman Nasional yang menjadi objek penelitian adalah salah satu Taman Nasional yang masuk ke dalam Biosphere Reserves (Cagar Biosfer) menurut UNESCO. Taman Nasional tersebut adalah Taman Nasional Lore Lindu yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah. Keadaan wilayah kajian dijelaskan berdasarkan penjelasan dari Direktorat jenderal perlindungan hutan dan konservasi alam departemen kehutanan Republik Indonesia (2007) berikut ini :

Umum

Taman Nasional Lore Lindu terletak di Provinsi Sulawesi Tengah,Kabupaten Poso (Kecamatan Lore Utara) dan Kabupaten Donggala (Kecamatan Palolo, Kulawi, Sigi Biromaru dan Dolo). Memiliki koordinat 119º 57′ – 120º 22′ BT dan 01º 03′ – 01º 58′ LS . Taman Nasional ini ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : : 646/Kpts-II/1999 pada Tanggal 23 Juni 1999 . Taman Nasional Lore Lindu memiliki luas ± 217.991 hektar. Taman Nasional Lore Lindu merupakan salah satu dari lima kawasan konservasi terpenting di wilayah Timur Indonesia . Kawasan ini merupakan habitat bagi 80% burung endemik Sulawesi dan mewakili 90% dari keanekaragaman mamalia darat, serta sumber air dari Danau Lindu dimana setiap tahunnya telah menyumbang jutaan dolar bagi perekonomian Propinsi Sulawesi Tengah. Kawasan Lore Lindu juga memiliki banyak tempat – tempat peninggalan megalith dari jaman pra sejarah, baik di dalam maupun sekitar kawasannya, oleh karena itu UNESCO menetapkan kawasan ini sebagai World Heritage Site. Karena keunikan, kekayaan keanekaragaman hayatinya, keindahannya, serta arti pentingnya bagi masyarakat, maka banyak organisasi internasional menganugerahkan status istimewa pada Taman Nasional Lore Lindu ini, antara lain :

  • Sebagai Cagar Biosfer oleh UNESCO,
  • sebagai Nominasi Lokasi Warisan Dunia,
  • sebagai Kawasan Burung Endemik.
  • sebagai Pusat Keanekaragaman Hayati,
  • sebagai Kawasan Ekologi Global 2000, dan
  • sebagai salah satu Pusat Penelitian di Sulawesi Tengah

Kondisi fisik:

Taman Nasional Lore Lindu terletak di antara 2 patahan utama yang terdapat di Sulawesi Tengah. Pada daerah pegunungan, umumnya berasal dari batuan asam seperti Gneisses, Schists dan Granit yang memiliki sifat peka terhadap erosi. Formasi lakustrin banyak ditemukan di bagian Timur taman nasional dan umumnya merupakan dataran danau atau berawa. Bahan endapan berasal dari campuran batuan sedimen, metamorpfosa dan granit. Bagian Barat banyak ditemukan formasi aluvium yang umumnya membentuk kipas aluvial/koluvial. Daerah ini juga banyak ditemukan teras-teras yang bertingkat. Strata dan sedimen yang ditemukan kawasan Taman Nasional Lore Lindu yaitu ;

  • Kompleks Gumbasa: komponen utama dari ikatan ini adalah batuan metamorphic dan termasuk granit gneissic, diorit bneissic, gneiss dan schist.
  • Kls Unit Batuan Latimojong
  • Ineba Vulkanik
  • Tpkg Kambuno Granit
  • Tmpi (g) Batuan Intrusif
  • TQpm Unit Batuan Napu
  • Qp Unit Batuan Pakuli
  • Ql Deposit Lacustrine

Keadaan tanah di Taman Nasional Lore Lindu dan sekitarnya, umumnya bervariasi dari yang belum berkembang (Entisol), sedang berkembang (Inseptisol) sampai yang sudah berkembang (Alfisol), serta sebagian kecil Ultisol. Kedalaman solum tanah umumnya dangkal sampai sedang, terutama di daerah daratan, sedang di daerah perbukitan ditemukan solum dangkal sampai dalam dengan tekstur lempung berpasir. Tanah dangkal pada umumnya ditemukan pada pinggir sungai (tanggul sungai) dan bagian perbukitan pegunungan yang curam. Pada bagian Timur taman nasional, tanah relatif belum berkembang sampai sedang berkembang, antara lain Typic Troporthen, Typic Eutropepth, Typic Tropoquept, Andic troporthent (dalam jumlah sedikit), dan Fluventic Eutotropeth (dalam jumlah sedikit). Pada bagian Barat tanah-tanahnya antara lain Typic Troporthent dan Fluventic Eutropept, Typic Eutropept, Lythic Eutropept, dan atau Lytic tropopept

Topografi

Taman Nasional Lindu berada pada ketinggian 300 sampai dengan lebih dari 2.000 mdpl, dengan puncak tertinggi Gunung Nokilalaki (2355 mdpl) dan Gunung Tokosa/ Rorekatimbu (2.610 mdpl). Lembah atau dataran yang relatif luas terdapat di Lembah Palolo, Lindu, Napu, Bada, dan Kulawi. Berdasarkan analisis peta topografi, berikut adalah kondisi kelerengan keseluruhan kawasan Taman Nasional Lore Lindu.

  • datar (0-8%) seluas 7 %
  • landai (8-15%) seluas 6%
  • agak curam (15-25%) seluas 15%
  • curam (25-45%) seluas 4%
  • sangat curam(> 45%) sekitar 68%.

Iklim

Curah hujan disekitar Taman Nasional Lore Lindu bervariasi dan tidak merata sepanjang tahun. Fontannel dan Chanterfort (1978, dalam RPTN Lore Lindu) melaporkan bahwa rata-rata curah hujan tahunan secara umum berada diatas 3.000 mm. Bahkan pada bulan-bulan kering, terutama di wilayah pada ketinggian 1000 m dpl atau lebih, curah hujan masih tinggi. Suhu maksimum pada kisaran 26º hingga 35º C, sedangkan suhu minimumnya pada kisaran 12º hingga 17º C. Kelembaban udara rata-rata 98% dan kecepatan angin rata-rata 3,6 km per jam.

Hidrologi

Taman Nasional Lore Lindu adalah kawasan tangkapan air yang besar, dan merupakan sumber air bagi dua sungai besar yaitu sungai Gumbasa di bagian Utara yang bergabung dengan sungai Palu di bagian Barat serta sungai Lariang di bagian Timur, Selatan, dan Barat. Fungsi hidrologis ini sangat besar manfaatnya bagi masyarakat sekitar kawasan dan Sulawesi Tengah umumnya.

Biotik

  • Flora
  1. Rawa, dijumpai antara lain jenis tumbuhan Dancrydium sp.,  Burmannia disticha, anggrek besar yang tumbuh di tanah (Phaius tankervilleae), Nepenthes sp., Rhododendron, pandan, dan sagu.
  2. 2. Hutan moonson, didominasi antara lain oleh jenis tumbuhan Pteros-permum cf. diversifolium.
  3. Dataran rendah, antara lain dijumpai Artocarpus vriesianus, Elmerillia ovalis, dan beberapa jenis dari famili Dipterocarpaceae.
  4. Pegunungan rendah, didominasi famili Sapotacese dan Fagaceae, namun ditemukan pula jenis Acer niveum, Bruinsmia styracea, Santiria sp. pohon – pohon palem(Calamus sp.) dan tumbuhan kayu merambat juga umum ditemukan selain pohon – pohon berdiameter diatas 60 cm dengan kanopinya tersusun secara baik, tertutup dan berlapis – lapis, diantaranya kaha (Castanopsis accuminatissima). Beberapa jenis lainnya Tristania whiteana, Calophyllum sp., Myrtus, Podocarpus neriifolia, dan Dandrydium imbricartus.
  5. Pegunungan tinggi, antara lain ditemui jenis – jenis bambu kecil seperti Begonia sp., Elatostema sp., Cyrtanda sp., dan Phyllocladus hypophyllus.
  6. 6. Hutan semak belukar, banyak dijumpai pohon – pohon ramping dan memiliki daun kecil misalnya Rhododendron sp., Phyllocladus hypophyllus, Burmania sp., dan Nepenthes sp.
  7. Hutan awan, dijumpai lumut serta pohon kecil jamur dan alga yang menutupi batang, ranting, dan dedaunan. Selain itu dijumpai Weinmannia descombesiana, Eugenic sp., dan beberapa jenis dari genus Theacea.
  • Fauna

Aneka jenis fauna di daerah ini diantaranya adalah : mamalia, kawasan ini merupakan tempat tinggal bagi 89% jenis mamalia Sulawesi. Tercatat 77 jenis mamalia besar maupun kecil, termasuk diantaranya 47 endemik Sulawesi. Beberapa diantaranya adalah anoa, babirusa, monyet boti, krabuku (tarsius), dan musang coklat. Burung, tercatat 225 jenis burung termasuk 78 endemik Sulawesi dan 46 jenis termasuk jenis langka. Taman nasional ini merupakan habitat bagi 80% jenis burung endemik dan 82% jenis langka. Jenis yang sangat terkenal diantaranya burung maleo dan enggang paruh merah (red-billed hornbill). Reptil dan amfibi, teridentifikasi 24 jenis reptil dari 13 famili dan 21 jenis amfibi.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan Dan Konservasi Alam (Ditjen PHKA). 2007. Informasi 50 Taman Nasional Di Indonesia.  Bogor : Sub Direktorat Informasi Konservasi Alam (Bogor) Dan Lestari Hutan Indonesia.