Radiasi PAR

by R.Larasati

Dalam proses fotosintesis, khlorofil dalam daun menyerap energi radiasi matahari pada kisaran panjang gelombang PAR (Photosynthetically Active Radiation) antara 0.38 – 0.68 µm). Oleh sebab itu untuk menduga potensi hasil suatu tanaman umumnya adalah dengan mengkonversi total PAR yang diterima tanaman menjadi bahan kering sesuai dengan kemampuan genetik tanaman (Mardawilis   2004 dalam Anggraini   2005). Stasiun cuaca umumnya tidak mengukur radiasi PAR, melainkan radiasi surya global (Qs) pada kisaran panjang gelombang 0.3 – 3.0 µm  dengan menggunakan pengukur radiasi yang disebut solarimeter. Untuk mengukur radiasi PAR diperlukan sensor radiasi khusus yang umumnya hanya untuk keperluan penelitian tertentu.

PARi digambarkan sebagai bagian dari spektrum radiasi yang digunakan didalam proses fotosintesis. Dimana nilai PARi adalah setengah dari keseluruhan radiasi total yang diterima oleh permukaan bumi. Dari keseluruhan radiasi total tersebut, diasumsikan bahwa setengahnya diserap oleh kanopi tanaman dan setengah lagi ada yang dipantulkan dan diserap oleh permukaan  tanah (June  2002 dalam Churniawan  2008).

Lamberg et al.  (1995) menghubungkan antara Absorbed Photosynthetically Active Radiation (APAR) dengan NPP oleh suatu persamaan sederhana yang disebut efisiensi bersih (εn). εn memiliki satuan biomassa atau karbon per unit APAR. Dengan adanya nilai insolasi PAR dan fAPAR, total dari APAR dapat diperoleh (Hanan et al.   1995).

Monteith (1972) menemukan bahwa produksi panen dibawah  kondisi tidak stress memiliki hubungan linear terhadap jumlah dari PAR yang diserap oleh daun (APAR). Fotosintesis daun dan kanopi adalah salah satu dari proses kunci dari siklus karbon di ekosistem terrestrial dan membutuhkan PAR, CO2, air, dan nutrient. Intersepsi kanopi tanaman bervariasi menurut jumlah dari PAR  selama musim tumbuhnya karena perbedaan dalam jenis daun dan dinamika musiman dari fenologi daun seperti kesegaran daun , ekspansi daun, dan  daun yang gugur. (Xiao  2006 dalam Imanda  2010).

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini N.  2005.  Estimasi Produktivitas Padi (Oryza Sativa) Dengan Model DSSAT Dan Data MODIS (Studi Kasus Kabupaten Ponorogo) [SKRIPSI]. Bogor : FMIPA-IPB.

Churniawan TH.  2008.  Pendugaan Net Primary Production (NPP) Menggunakan Netpro v1.1 (Studi Kasus Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah Tahun 2001 dan 2005) [Skripsi].  Bogor: FMIPA-IPB.

Hanan NP, Prince SD, Bèguè A.  1995.  Estimation Of Absorbed Photosynthetically Active Radiation Vegetation Net Production Efficiency Using Satellite DataAgriculture And Forest Meteorology 76: 259 – 276.

Imanda ID.  2010.  Spatial Distribution Of Net Primary Production (Npp) Using Modis Data And Correlation With Climate Variability [tesis].  Bogor: FMIPA-IPB.