Taman Nasional Ujung Kulon

by R.Larasati

Umum

Taman Nasional Ujung Kulon terletak di Provinsi Banten, Kabupaten Pandeglang. Secara koordinat Taman Nasional Ujung Kulon terletak pada 1020 02’ – 1050 37’ BT dan 060 30’ – 060 52’ LS. Taman Nasional Ujung Kulon dinyatakan berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian pada tahun 1980. Dasar penunjukkan Taman Nasional Ujung Kulon berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 284/Kpts-II/1992 pada tanggal 26 februari 1992. Ditetapkan pada tanggal 23 September 1999 berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 758/Kpts-II/1999. Luas Taman Nasional ini sendiri secara keseluruhan adalah sebesar ± 120.551 hektar.

Taman Nasional Ujung Kulon merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat dan Banten serta merupakan habitat terakhir bagi kelangsungan hidup satwa langka badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya. Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem pesisir pantai, dan ekosistem daratan. Taman nasional ujung kulon dan cagar alam Krakatau pada tahun 1992 ditetapkan sebagai salah satu situs warisan alam dunia (the natural world heritage site) di Indonesia oleh UNESCO.

Kondisi Fisik :

  • Geologi Dan Tanah

Semenanjung Ujung Kulon, Gunung Honje, dan Pulau Panaitan merupakan bagian dari sistem tersier. Selama masa Plionase deretan Pegunungan Honje diperkirakan telah membentuk ujung selatan dari deretan Pegunungan Bukit Barisan Selatan di Sumatera yang kemudian terpisah setelah terlipatnya kubah Selat Sunda.

Bagian tengah dan timur Semenanjung Ujung Kulon terdiri dari formasi batu kapur miosen yang tertutupi endapan alluvial di bagian utara dan endapan pasir di bagian selatan. Di bagian barat, yang merupakan deretan Gunung Payung terbentuk dari endapan batuan miosen. Di bagian timur yang merupakan deretan Pegunungan Honje, batuan – batuannya lebih tua dan tertututp oleh batuan kapur dan tanah liat. Pulau Panaitan mempunyai pola lipatan dan formasi batuan yang sama dengan yang terlihat di Gunung Payung, dan di bagian barat terutama barat laut di temukan bahan – bahan vulkanis termasuk breksia, tufa, dan kuarsit yang terbentuk pada zaman Holosen.

Bahan induk tanah di Taman Nasional Ujung Kulon berasal dari batuan vulkanik seperti batuan lava merah, marl, tuff, batuan pasir, dan konglomerat. Jenis tanah di kawasan Ujung Kulon di dominasi oleh jenis tanah kompleks grumosal, regosal, dan mediteran dengan fisiografis bukit lipatan.

Di daerah Gunung Honje di dapati tipe tanah regosal abu – abu berpasir, podsolik kekuningan dan coklat, mediteran, grumosal, regosal, an latosal. Sedangkan Pulau Panaitan, umumnya bertipe tanah alluvial, hidromorf, regosal abu – abu dengan campuran latosol merah – coklat.

  • Topografi

Semenanjung Ujung Kulon yang berbentuk segitiga, bagian tengahnya merupakan dataran rendah yang lebih luas dibanding daerah perbukitan lainnya. Tingginya dari atas permukaan air laut jarang lebih dari 50 meter dan terpotong oleh aliran sungai yang mengalir ke utara, timur, dan selatan.

Di sepanjang pantai paling utara Ujung Kulon bagian kerucut, tanahnya relatif datar sehingga membentuk daerah rawa pasang surut dan terdapat karang penghalang di sepanjang pantai tanjung alang – alang.

Dataran tinggi Telanca yang letaknya berseberangan di sebelah timur Pulau Peucang mempunyai daerah aliran sungai yang jelas dan ketinggiannya berkisar 100 – 140 mdpl. Dari Pantai Cibunar, ketinggiannya naik secara tajam kearah Gunung Payung (480 mdpl) dan Gunung Guhabendang (500 mdpl) di bagian barat daya.

Ujung Kulon bagian barat merupakan daerah yang sangat bergunung – gunung, dengan tiga buah puncaknya yang tampak nyata  yaitu Gunung Payung, Guhabendang, dan Gunung Cikuya, dimana puncak – puncak itu membentuk punggung gunung yang panjang dan berlereng curam.

Pantai Selatan merupakan daerah yang lebih terbuka dengan pantai berbukit pasir yang membentang dari muara Sungai Cibandawoh sampai Muara Citadahan. Dari Muara Citadahan kearah barat hingga di muara Sungai Cibunar terdapat batu pasir yang merupakan satu – satunya pantai di Ujung Kulon dengan lempengan – lempengan batu pasir.

Pantai barat Ujung Kulon terdapat pantai karang yang luas tetapi di beberapa tempat dipisahkan oleh pantai berpasir dengan hamparan batu karang tua dan gunung berapi. Lebih ke selatan, di bagian barat sisi Gunung Payung terdapat batu – batu karang terdapat batu – batu karang yang tinggi dan terdapat gua keramat yang dikenal dengan nama Gua Sangyangsirah.

Gunung Honje merupakan gunung yang masif, letaknya di sebelah timur Tamanjaya dengan panjang 20 km dan lebarnya 10 km, membentuk daerah aliran sungai yang nyata, mengalir kearah timur laut, sejajar dengan sisi bagian timur Teluk Tamanjaya, dimana kaki pegunungan ini dipisahkan oleh dataran pantai yang sempit. Titik tertinggi adalah Gunung Honje (620 mdpl), di bagian selatan rendah dan batasnya dengan Ujung Kulon tepat disebelah timur Tanah Genting.

Pulau Hadeuleum merupakan pulau terbesar diantara pulau – pulau karang kecil, dekat ujung pantai timur Ujung Kulon yang terletak disisi bagian barat Teluk Tamanjaya.

Pulau Peucang terletak di dalam teluk yang terlindungi di pantai barat laut, kurang lebih 4 km di sebelah timur Tanjung Layar. Separuh dari pulau yang terdiri dari karang merupakan daerah datar yang letaknya sedikit lebih tinggi di atas permukaan laut, tetapi di bagian timurnya lebih tinggi dengan puncak punggung bukit yang datar dan menurun kearah tanjung berbatu karang, yaitu Karang Copong. Pada ujung utara pulau itu, batu karang membuat pantai  menjadi berlekuk – lekuk, kecuali di sebelah selatan, yang bertetanggaan dengan Ujung Kulon, dimana terdapat pantai yang indah dan cocok untuk berlabuh.

Pulau Panaitan, yang terpisah dari pantai utara Ujung Kulon oleh selat yang dalam selebar 10 km merupakan dataran rendah dengan beberapa areal mangrove pada tempat – tempat dimana pantainya terputus – putus karena diselingi oleh tanjung yang berkarang dan pantai berpasir. Pulau Panaitan umumnya berbukit – bukit. Di bagian utara dan tengah tingginya mencapai kurang lebih 160 m. dengan deretan bukit yang sejajar dengan pantai tenggara, mencapai ketinggian 320 mdpl pada puncak Gunung Raksa, yang merupakan titik tertinggi di pulau panaitan.

  • Aliran Sungai Dan Daerah Hydrobiologi

Di Semenanjung Ujung Kulon dapat dibedakan dua pola aliran sungai. Di daerah berbukit di bagian barat, banyak sungai kecil berair deras yang berasal dari Gunung Payung/Gunung Cikuya yang masif dan menyebar mengalir menuju pantai – pantai. Sungai tersebut sebagian besar tidak pernah kering sepanjang tahun. Sungai yang cukup besar yang berasal dari daerah ini, yaitu Sungai Cijungkulon yang mengalir kearah utara, mencapai pantai yang berseberangan dengan Pulau Peucang, dan Sungai Cibunar mengalir kearah selatan. Sebagian besar semenanjung di bagian timur kurang baik pengairannya. Sungai yang ada umumnya mengalir kearah timur laut dan utara. Dengan muara yang sering terhalang oleh timbunan pasir, mengakibatkan genangan air membentuk rawa musiman. Hal demikian dijumpai pula di pantai selatan, pada Sungai Citadahan, Cibandawoh, dan Cikeusik.

Sungai dibagian utara di daerah Tanjung Alang – Alang, termasuk Nyiur, Jamang, dan Nyewaan membentuk daerah – daerah rawa air tawar yang besar, berdekatan dan sejajar dengan pantai, termasuk danau – danau kecil yang akan kering di musim kemarau. Karena luasannya terlalu kecil, maka di Pulau Peucang tidak terdapat sungai, tetapi pada musim hujan akan terjadi rawa air tawar mengairi bagian barat pulau.

Dua buah sungai yang terbesar di Ujung Kulon, yaitu Cikarang dan Cigenter berasal dari daerah Gunung Telanca, mengalir kearah timur laut dan timur menuju pantai. Kedua sungai ini dan beberapa sungai yang lebih kecil di sebelah utara, menarik perhatian karena terdapatnya teras – teras yang dibentuk oleh endapan larutan batu kapur (CaCO3). Di Sungai Cigenter hulu dan Citerjun teras – teras tersebut terbentuk menyerupai bendungan buatan yang menyilang sungai.

Bagian timur laut Pulau Panaitan merupakan daerah berbukit – bukit, dan umumnya mempunyai pengairan yang baik, dimana banyak sungai kecil dan pendek tetapi terdapat tiga buah yang lebih besar yaitu Cilentah mengalir ke pantai timur, Cijangkah ke pantai utara, dan Ciharashas mengalir kearah selatan, ke Teluk Kasuaris. Cilentah dan Cijangkah mengalir ke laut melalui rawa. Juga terdapat beberapa hutan rawa air tawar di daerah selatan yang letaknya di sebelah timur Teluk Kasuaris.

Dari Gunung Honje, sungai – sungai mengalir kearah barat menuju Teluk Tamanjaya dan kearah selatan menuju pantai selatan Samudera Indonesia. Sungai – sungai itu umumnya kecil, hanya satu yang agak besar yaitu Sungai Cikalejetan yang berasal dari bagian barat Gunung Honje mengalir kearah barat daya mencapai pantai selatan pada perbatasan Gunung Honje dan Ujung Kulon.

  • Iklim Dan Curah Hujan

Daerah Ujung Kulon beriklim laut tropis yang khusus, dengan curah hujan tahunan rata – rata ± 3.140 mm. tidak terdapat data mengenai suhu dan kelembaban, tetapi suhu diperkirakan sekitar 250 – 300 C, dengan kelembaban 80% – 90%.

Musim hujan terjadi pada bulan Oktober sampai April, bersamaan dengan bertiupnya angin dari barat laut, dimana curah hujan tiap bulannya mencapai lebih dari 200 mm biasanya pada bulan Oktober pada bulan Desember, dan lebih dari 400 mm pada bulan Januari. Bahkan pada periode terkering yaitu bulan Mei sampai September, saat angin bertiup dari arah timur, curah hujan normal bulanannya mencapai lebih dari 100 mm.

Taman Nasional Ujung Kulon yang terletak antara Samudera Indonesia (di sebelah selatan) dan Selat Sunda (di sebelah utara), sangat dipengaruhi oleh bertiupnya angin kuat dari arah barat dan sekali – kali terjadi angin ribut yang kadangkala menumbangkan pohon –pohon dan dapat menyulitkan perjalanan dengan kapal.

Biotik

  • Flora

Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon mempunyai tiga tipe ekosistem, yaitu

  1. Ekosistem perairan laut : meliputi habitat terumbu karang dan padang lamun, terdapat di wilayah perairan Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Handeuleum, Pulau Peucang, dan Pulau Panaitan.
  2. Ekosistem daratan : berupa hutan hujan tropis asli yang terdapat di Gunung Honje, Semenanjung Ujung Kulon, dan Pulau Panaitan.
  3. Ekosistem pesisir pantai : terdiri dari hutan pantai dan hutan mangrove yang terdapat di sepanjang pesisir pantai. Hutan mangrove terdapat di bagian timur laut Semenanjung Ujung Kulon dan pulau – pulau di sekitarnya (Pulau Handeuleum dan sekitarnya).

Dari hasil survey yang dilakukan oleh para ahli, Taman Nasional Ujung Kulon mempunyai beberapa tipe vegetasi yaitu :

  • Hutan pantai: dicirikan adanya jenis – jenis, seperti nyamplung (Calophyllum inophyllum), butun (Barringtonia asiatica), kampis cina (Guettarda speciosa), katepang (Teminalia catappa), dan cingkil (Hernandia peltata). Kelompok vegetasi ini dikenal sebagai formasi “Barringtonia” dan pohon nyamplung merupakan jenis yang lebih dikenal dari tipe ini. Hutan pantai terdapat di sepanjang pantai barat dan timur laut Pulau Peucang, dan Pulau Panaitan sepanjang pantai utara dan di Teluk Kasuaris. Umumnya formasi itu hidup diatas pasir karang pada jalur memanjang yang sempit, dari tepi pantai kearah dengan lebar 515 meter. Pada pantai terbuka seperti pantai barat Ujung Kulon, Pulau Peucang, dan Pulau Panaitan umumnya terdapat pandan (Pandanus tectorius), pakis haji (Cycas rumphii), dan cantigi (Pemphis acidula). Formasi pescaprae yang merupakan vegetasi pionir umumnya terdapat disepanjang tepi pantai berpasir sebelah atas dekat dengan zona air pasang tinggi yang dicirikan adanya daun katang – katang (Ipomeia pescaprae), jukut tiara (Spinifex litolaris), dan Canavalia maritma. Formasi ini ditemui pula di Pulau Peucang, terutama di sepanjang pantai selatan dan timur yang ditumbuhi juga rumput tembaga (Ischaemum muticum). Di Pantai Panaitan di dekat muara sungai dan di Ujung Kulon sepanjang pantai barat dan selatan tumbuh pandan (Pandanus tectorius) yang membentuk vegetasi murni walaupun sesekali dijumpai beberapa pohon kiara (Ficus septica). Pandan raja (Pandanus bidur) yang jarang tumbuh, terdapat di dekat muara sungai di pantai selatan dan pantai barat Gunung Payung. Sedangkan di sebelah timur muara Sungai Cibandawoh vegetasi Pandanus tectorius menghilang digantikan oleh formasi Barringtonia.
  • Hutan mangrove : hutan mangrove pasang surut terluas terdapat di sepanjang sisi utara Tanah Genting, meluas kearah utara sepanjang pantai sampai ke Sungai Cikalong. Daerah mangrove yang lebih sempit terdapat Sungai Cicangkeuteuk, disebelah barat laut Pulau Handeuleum dan pada kedua buah pulau kecil, disebelah selatan dekat Pulau Handeuleum. Juga terdapat hutan rawa nipah (Nypha angustifolia) yang tidak luas pada beberapa muara sungai, yaitu Sungai Cijungkulon dan Cigenter di pantai utara semenanjung, serta Sungai Cikeusik dan Cibandawoh di pantai selatan. Rawa mangrove yang luas di temui di Pulau Panaitan, antara lain legon lentah, legon kadam, dan legon mandar. Vegetasi mangrove umum ditemui, seperti padi – padi (Lumnitzera racemosa), api – api (Avicennia sp.), bakau (Rizophora sp.), bogem (Sonneratia alba), Bruguiera sp., serta terkadang dijumpai pakis rawa jenis lamiding (Acrostichum aureum).
  • Hutan rawa air tawar : sebidang daerah hutan rawa musiman yang sempit, terdapat di Tanjung Alang – Alang di daerah Nyawaan, Nyaiur, Jamang, dan Sungai Cihandeuleum Hulu. Di daerah ini, saat musim hujan air menggenang tetapi menjadi kering selama musim kemarau. Daerah rawa – rawa ini ditandai dengan adanya pohon nipah, cyperus, dan lampeni (Ardisia humilis) yang biasa dijumpai dalam tegakan murni membatasi rawa ini.
  • Hutan rawa dataran rendah : walaupun hutan hujan ini menutupi sebagian besar Ujung Kulon, Pulau Panaitan, Pulau Peucang, dan Gunung Honje, tetapi hanya 40% dari Ujung Kulon dan 50% dari Gunung Honje yang masih berhutan primer. Hutan hujan terbaik terdapat di Pulau Peucang, sedangkan di Pulau Panaitan hanya tersisa sedikit, disekeliling Gunung Raksa.
  • Hutan Ujung Kulon dan Gunung Honje : ditandai dengan bermacam – macam jenis palem, tetapi yang umum dikenal adalah pohon langkap (Arenga obtusifolia). Langkap sering berupa tegakan murni setinggi 10 – 15 meter di daerah – daerah yang rendah dan mempunyai tajuk tertutup. Jenis palem lain yang dapat ditemui disini adalah nibung (Oncosperma tigillaria), aren (Arenga pinnata), sayar (Caryota mitis), dan salak (Salacca edulis) yang merupakan tegakan lebat di lembah, serta Pinanga coronate yang tumbuh di daerah lebih tinggi. Diantara jenis palem tersebut sering dijumpai jenis – jenis, seperti bungur (Lagerstroemia speciosa), kiara (Ficus sp.), tumbuhan pencekik (Strangling pigs), kicalung (Dyospyros macrophylla), laban (Vitex puhescens), hanjah (Anthocephallus chinensis), dan ciputat (Planchonia valida) yang pohonnya sangat tinggi.
  • Gunung Payung : terdapat hutan primer yang rimbun, dengan pohon segal (Dillenia exceisa), sogung (Pentace polyantha), zyzygium sp.,dan jenis – jenis yang membentuk tajuk tinggi dengan tumbuhan bawah jenis palem yang rendah serta rumput – rumputan. Diantara hutan primer di Ujung Kulon, terutama di sebelah timur, disepanjang Sungai Cigenter dan Cikarang serta dekat rawa – rawa sekitar Sungai Cibunar dan Cikeusik terdapat pohon bambu yang lebat. Bambu membentuk penghalang fisik di sepanjang sungai yang sering sekali sukar dilalui. Demikian halnya dengan rotan (Callamus sp.) dan tumbuhan bawah yang lebat terdapat di beberapa tempat, serta pohon salak (Salacca edulis) yang berduri yang terdapat di lereng Bukit Telanca. Daerah – daerah tertentu yang relatif terbuka dengan sedikit pohon besar, tertutup oleh tumbuhan sekunder, seperti tepus (Achasma sp.) yan tumbuh sangat lebat bersama dengan rotan (Callamus sp.)
  • Pulau Peucang : terdapat sedikit hutan hujan dataran rendah yang bagus dengan pohon besar yang menjulang setinggi 36 – 40 meter, dengan pohon – pohon di bawahnya yang jarang. Terdapat sedikit perbedaan komposisi antara hutan – hutan di daerah yang lebih rendah di sebelah selatan dan hutan – hutan di daerah yang lebih tinggi di bagian utara pulau. Pohon – pohon yang dominan di Pulau Peucang adalah bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterspermum diversifolium), Eugenia sp., Parinarium corymbosum, Rinorealanceolata, Aglaia sp., dan di daerah – daerah yang lebih tinggi dijumpai ki hideung (Hydnocarpus heterophylla). Di daerah yang lebih rendah terdapat bayur (Pterospermum javanicum), kiara (Ficus sp.), dan kigula (Chisocheton sp.). sedangkan vegetasi tumbuhan bawah ditandai dengan banyaknya anakan pohon lampeni (Ardisia humilis), kicalung (Diospyros sp.), Panchonella sp., dan merbau (Intsia bijuga).
  • Lereng Gunung Honje :  yang lebih rendah terdapat hutan yang masih baik dengan banyak pohon yang tinggi seperti bayur (Pterospermum javanicum), ki hujan (Angelhardia serrata), kiara (Ficus sp.), Eugenia sp., Dipterocarpus gracilis, merbau (Itsia bijuga), dan bungur. Di lereng yang lebih tinggi terdapat Castanopsis dan Fagasae. Adanya kelembaban yang tinggi, lereng di sebelah timur terdapat vegetasi yang lebih lebat terdiri dari pohon janitri (Plaeocarpus sphaericus), cangkudu badak (Podocarpus nerifolia), pahlalar (Dipterocarpus haseltii), kipela (Aphana maxis sp.), dan Eurya sp.. di batang – batang pohon dan di tanah, tumbuh lumut tebal dan banyak epiphyt yang terdiri dari anggrek dan paku – pakuan seperti Freycinetia sp. dan Asplenium nidus.
  • Puncak Gunung Cibenua : 500 meter, dijumpai pohon kerdil dan jenis kopo kerdil (Eugenia sp.).
  • Padang rumput : terdapat tujuh lokasi padang rumput yang berfungsi sebagai tempat makan beberapa jenis satwa seperti banteng dan rusa. Padang rumput tersebut yaitu Cijungkulon, Cidaun, dan Cikuya yang letaknya diseberang Pulau Peucang dan satu lokasi berada di dekat muara Sungai Cigenter. Dua padang rumput yang tidak begitu luas yaitu Cibunar terdapat di dekat muara Sungai Cibunar dan satu lokasi yang berdekatan dengan kompleks mercusuar di Tanjung Layar. Beberapa jenis rumput yang mendominasi diantaranya Panicum repens, Andropogon sp., Panicum colomum, Melastoma malabricum, dan Cyperus sp..
  • Fauna

Satwa di Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptlia, 22 jenis amfibia, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan, dan 33 jenis terumbu karang.

Mamalia : jenis mamalia yang langka dan dilindungi undang – undang di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon , yaitu badak jawa (Rhinoceros sondaicus), banteng (Bos javanicus), rusa sambar (Cervus timorensis), kancil (Tragulus javanicus), owa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comate), lutung (Trachypithecus auratus), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), macan tutul (Panther pardus), kucing batu (Felis bengalensis), binturong (Arctictic binturong), ajag (Cuon alpinus), ganggarangan (Harpentes javanicum), babi hutan (Sus sp.), dan kalong (Pteropus vampirus).

Burung : terdapat 240 jenis burung, antara lain elang ikan (Techtyophaga ichtyaetus), dara laut (Sterna hirundo), cangak abu (Ardea cinerea), cangak merah (Ardea purpurea), pecuk ular (Anhinga melanogaster), rangkong (Buceros rhinoceros), julang (Aceros undulates), merak (Pavo muticus), dan ayam hutan (Gallus varius).

Reptil : buaya (Crocodylus porosus), penyu hijau (Chelonia mydas), biawak (Varanus salvator), ular sanca manuk (Phyton repticulatus), ular sanca bodo (Phyton molurus), ular tanah (Anchistrodon rodhostoma), dan bunglon (Calotes cristaleus).

Amphibi : katak (Bufo asperr, Bufo biporcatus), katak pohon (Palypedatus leucomystax), Rana cancrivora, Rana macrodoh, dan Rana kuhlii.

Ikan : banyak sekali jenis ikan yang sangat menarik, baik ikan dari perairan darat maupun ikan dari perairan laut. Jenis – jenis tersebut antara lain ikan kupu – kupu, ikan badut, bidadari, singa, kakatua, glodok, dan sumpit. Ikan glodok dan jenis sumpit merupakan dua jenis ikan yang sangat aneh dan unik. Ikan glodok memiliki kemampuan dapat memanjat pohon, sedangkan ikan sumpit memiliki kemampuan menyemprotkan air ke atas permukaan sungai untuk menjatuhkan mangsanya seperti semut dan sejenisnya. Semprotan ikan sumpit yang hidup di sungai itu dilaporkan dapat mencapai setinggi 2 meter.