Taman Nasional Lorentz

by R.Larasati

Umum

Taman Nasional Lorentz terletak di Propinsi Papua meliputi : Kabupaten Asmat, Kabupaten Yahukimo, Kabupatan Mimika, Kabupaten Jayawijaya, dan Kabupaten Puncak Jaya. Memiliki koordinat 1360 56’ – 1390 09’ BT dan 030 41’ – 050 – 30’ LS, Taman Nasional ini ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 154/Kpts-II/1997 pada tanggal 19 maret 1997.. Taman Nasional Kerinci Seblat memiliki luas ± 2.505.600 hektar.

Taman Nasional Lorenzt merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai salju abadi dan gletser di daerah tropis. Letaknya membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 mdpl), hingga perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura. Dalam bentangan ini terdapat spektrum ekologis menakjubkan dari kawasan vegetasi alpin, sub-alpin, Montana, sub-montana, dataran rendah, dan lahan basah. Disamping memiliki keanekargaman hayati yang sangat tinggi, terdapat juga beberapa kekhasan dan keunikan, yaitu selain gletser di Puncak Jaya juga sungai yang menghilang sampai beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Balliem. Taman Nasional Lorentz ditetapkan sebagai situs warisan alam dunia oleh UNESCO dan warisan ASEAN oleh Negara – Negara ASEAN.

Kondisi Fisik :

  • Geologi Dan Tanah

Bagian selatan Taman Nasional Lorentz merupakan dataran alluvial pantai yang sangat luas dan bagian tengah pegunungan yang tidak datar merupakan ciri kawasan Lorentz. Kawasan ini mempunyai struktur geologi yang kompleks akibat interaksi Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik. Puncak tertinggi dari jajaran pegunungan dan lereng bagian selatan terbentuk oleh lempeng campuran yang terdiri atas kerak benua Australia dan bagian bawah palcozoic dari Zaman Tasman Orogen. Keduanya berubah dan tertimbun sendimen pada Zaman Holosen. Bagian selatan yang terendam terbentuk oleh batuan alluvium pada Zaman Neogen dan Kuarter, sedangkan lereng bagian selatan dan kaki bukitnya dicirikan oleh lapisan tebal dari batuan Silurian atau Devonian hingga permain, semuanya sedikit banyak mengalami perubahan bentuk. Batu lempung, shale, batu pasir, konglomerat, dan batuan vulkanik membentuk endapan ini. Bagian tertinggi dari kawasan pegunungan merupakan lapisan batuan endapan setebal 2.000 meter, yang terdiri dari campuran batu gamping, marl, dan batu pasir. Semua endapan ini berada pada daerah pasang surut atau pada lingkungan perairan laut.

  • Iklim

Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson kawasan ini masuk ke dalam tipe iklim A, dengan curah hujan 3.700 – 10.000 mm per tahun

  • Biotik

Jenis – jenis flora di zona pegunungan, sub-alpin, dan alpin, telah diteliti dengan sangat rinci di Gunung Trikora dan sebagian di Gunung Jaya Wijaya menunjukkan endemisme yang tinggi. IUCN (1990) mengkategorikan Taman Nasional Lorentz sebagai salah satu pusat keanekaragaman flora di Indonesia. Dalam kawasan Taman Nasional Lorentz sedikitnya terdapat lima zona vegetasi menurut ketinggiannya, yaitu zona dataran rendah, zona pegunungan, zona sub-alpin, zona alpin, dan zona nifal.

Zona dataran rendah (0 – 650 mdpl), meliputi :

  1. sub-zona pantai (sistem lahan putting, 0 – 4 mdpl): vegetasinya berkisar dari tanaman apung dan tanaman bawah air, hingga rumput rawa, alang – alang, sagu, palem, pandan, dan hutan rawa serta bakau.
  2. Sub-zona rawa pasang surut (0 – 1 mdpl) : rawa hutan bakau dan nipah yang dipengaruhi pasang surut, komunitas bakau juga ditemukan dipedalaman sepanjang sungai, jenis Nypafluticans tumbuh hingga ke pedalaman.
  3. Sub-zona daerah meander ( 0 – 25 mdpl) : hutan klimaks campuran.
  4. Sub-zona rawa gambut (3 – 50 mdpl) : pandan, Carallia, Syzygium, dan Campnosperma, Terminalia, Alstonia, Barningtonia, Metroxylon Sagu, Diospyros, Pandanis, dan Myristica di daerah rawa – rawa.
  5. Sub-zona kipas alluvial (50 – 150 mdpl) : Annonaceae, yaitu Apocynaceae, Burceraceae, Dipterocarpaceae, Ebenaceae, Vagaceae, Liguminceae, Meliaceae, Moraceae, Myrtaceae, dan Sterculiaceae. Spesies pohon yang khas di tingkat atas adalah Pometia, Alstonia, Ficus, dan Terminalia, sedangkan pohon di tingkat bawah adalah Garcinia, Diospiros, Myristica, Maniltoa, dan Microcos.
  6. Sub-zona lembah alluvial ( 25 – 100 mdpl) : meliputi jenis vegetasi yang berada sejajar dengan sunagi sepanjang garis gradient dari keadaan basah hingga ke keadaan kering.
  7. Sub-zona ketinggian teras terpotong (100 – 650 mdpl) : tumbuhan sarang semut/sejens pakis (Myrmecodia dan Lecanopteris Mirabilis), tumbuhan kantung karnivora (Nephantes sp.), Casuarinas, Dacrydium, Podocarpus, Tristania, Eugenia, Syzygium Pandan, dan Freynetia sp.

Zona pegunungan ( 650 – 3200 m dpl), meliputi :

1. Sub-zona pegunungan bawah (699 -1.500 mdpl) : pakis pohon lebih banyak ditemukan di semak dan lapisan pohon bawah serta perdu seperti Elastosterma, Begonia, dan Impatiens berbunga jingga merah jambu di lapisan bawah. Hutan ini juga kaya akan spesies pohon – pohon Castanopsis, Lithocarpus, Sloanea, serta Cryptocarya.

  1. Sub-zona pegunungan tengah : hutan pegunungan tengah campuran, hutan Captanopsis, hutan Notofagus, hutan Coniferous, hutan rawa pegunungan tengah, dan rangkaian vegetasi bekas ladang. Pohon – pohon tudung yang banyak tumbuh berasal  dari keluarga Fagaceae, Lauraceae, Cunioneeceae, Elaeocarpaceae, dan Myrtaceae. Tumbuhan bawah pohon, meliputi Garcinia, Astronia, Polyiosomo, Symlocos, Sericolea, Drymis, Prunus, Pittospermum, dan Araliaceae. Hutan coniferous terdapat pada ketinggian di atas 2.400 m dpl. Beberapa genusnya antara lain Podocarpus, Darycarpus, Papuacerdus, Phyllocladus, dan Arocaria.

Zona sub-alpin : zona sub-alpin (3.200 – 4.170 mdpl) bawah, miskin akan flora. Huan di zona ini memiliki tudung yang tertutup, dengan ketinggian mencapai 10 hingga 15 meter. Beberapa jenis yang dominan antara lain Rapanea sp., Dacrycarpus campactus, dan Papuacedrus papuas.

Zona alpin : zona alpin berada pada ketinggian antara 4.170 – 4.585 mdpl. Vegetasi alpin meliputi semua komunitas yang tumbuh di atas batas semak tinggi. Vegetasi ini berbentuk padang rumput, keranggas, dan tundra.

  1. Padang rumput tussock alpin : Deschamsia klosii membentuk padang rumput tussock yang padat di tanah yang terdainase dengan baik dari ketinggian 4.170 – 4.500 m di Gunung Jaya. Semak seperti styphelia Suaveolens berada di dalam tussock bersama dengan berbagai jenis perdu terutama Papuzilla laeteviridis dan the minute Fern Cystopteris sp.
  2. Tetramolopium klosi – keranggas Rhacomitrium : Tetramolopium klosi tumbuh sebagai semak rendah yang menyebar hingga 30 cm, berakar hampir di hamparan lumut Rhacomitrium crispulum, dan Distichum capillaceum, Styphelia siaveolens, dan Vaccinium cf. coelorum dengan frekuensi yang naik di daerah morena tua.
  3. Semak keranggas kerdil : komunitas ini menempati puncak punggung gunung dan lereng di ketinggian lebih dari hamparan semak hingga setebal 20 cm, yang umumnya terdiri dari Styphelia suaveolens, serta Tetramolopium klosii, Tetramolopium pilosovillosum, dan kadang kala Coprosma brassii, serta semak Senecio sp., Deschamsia klosii, dan Monostachya oreobolides menempati celah – celah pada keranggas beserta hamparan Geranium, Epilobium detznerianum dan Parahebe wanderwateri yang tersebar dimana – mana.

Zona nival (lebih dari 4.585 mdpl), meliputi :

  1. Tundra alpin kering : morena yang termuda pada ketinggian 4.230 4.600 mdpl telah tersingkap oleh adanya lelehan es yang terus – menerus selama 30 tahun dan ditumbuhi lumut serta beberapa spesies herba yang mampu tumbuh di tanah mineral alkalin.
  2. Tundra alpin basah : lembah kuning memiliki lantai yang sangat datar dilewati oleh banyak morena rendah. Dibelakang morena – morena ini dan di beberapa cekungan cadas, hamparan lumut yang membentang mendukung beberapa spesies herba untuk membentuk suatu komunitas yang menyerupai tundra alpin basah Gunung Wilhem. Lumut utama, Breutelia aristivolia, tumbuh pada danau kapur yang tergenang secara periodik dari morena dasar sekitar. Hamparan kecil Gnaphalium breviscapum, Geranium potentiloides var. alpestre, dan Renuculus sp. tumbuh disana. Rumput sedges dengan tuft – tuft terbalut Deschampsia klosii muncul di ketinggian 4.500 mdpl, dikelilingi oleh kerangas Tetramolopium.
  • Fauna

Mamalia : Taman Nasional Lorentz oleh para ahli mamalogi terkemuka disebut sebagai daerah yang paling penting bagi varietas mamalia di Melanesia. Dari 42  jenis, 10 atau hampir 25 persen merupakan catatan baru untuk Irian Jaya. Sedangkan 2 jenis merupakan spesies baru.  Jenis satwa baru dan langka yaitu kangguru pohon (Dendrolagus mbaiso), Dendrolagus dorianus, jenis tikus (genus stenomys), dua spesies tikus raksasa Mollomys aroaensis dan Mollomys istapantap. Jenis kelelawar Syconycteris habbit, Paranyctimene raptor, Pipistrellus collinus, dan Tadarida kuboriensis. Spesies lainnya, yaitu landak irian (Zaglossus brujini), tikus (Coccymysrummleri), tikus air (Hydromys hebbema), possum kerdil (Cercatus caudatus), tikus (Mellomys mollis), walabi coklat (Docropsis muelleri), kuskus abu (Phalanger gymnotis), kuskus totol (Spilocuscus maculatus), dan  possum bergaris (Dactylopsila trivergata). Sejauh ini 64 spesies mamalia telah diidentifikasi dan diperkirakan ada sebanyak 90 hingga 100 spesies mamalia yang mungkin hidup di Taman Nasional Lorentz.

Burung : Taman Nasional Lorentz meliputi dua daerah burung endemik dengan total 45 burung sebaran terbatas dan 9 spesies burung endemik yang dibatasi di barisan Pegunungan Sudirman dan darah burung endemik dataran rendah Irian bagian selatan. Archboldia papuaensis, cendrawasih elok (Macgregoria pulchra), ifrita topi-biru (Ifrita kowaldi), pipit ekor api (Oreostruthus fuliginosus), sesap madu (Eurostopodus archboldi), wallet sapi maupun wallet gunung (Collocalia esculenta dan Collocalia hirundinaceae), mambruk selatan (Goura scheepmakeri), nuri kabare (Pittrichas fulgidua), itik noso (Anas waigiuensis), dan robin salju (Petroica archboldi).

Amphipi dan reptil : antara lain jenis – jenis Lobula sp., ular sanca boelan (Morelia boelini), kura – kura moncong babi (Carettochelys insculpta), dan buaya (Crocodylus porosus dan Crocodylus navaeguineae).

Ikan : diperkirakan lebih dari 1.000 spesies ikan terdapat di Taman Nasional Lorentz, diantaranya ikan kaloso atau lebih popular dengan sebutan arwana (Scleropages jardini).