Taman Nasional Gunung Leuser

by R.Larasati

Umum

Taman Nasional Gunung Leuser terletak di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), tepatnya di Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh Selatan, Gayo Luwes, dan Aceh Barat Daya, serta di Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Langkat dan Karo. Secara koordinat Taman Nasional Gunung Leuser terletak pada 020 50’ – 040 10’ LU dan 960 35’ – 980 30’ BT. Dasar penunjukkan Taman Nasional Gunung Leuser berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 276/Kpts-VI/1997 tanggal 23 Mei 1997. Luas Taman NAsional ini sendiri secara keseluruhan adalah sebesar 1.094.692 hektar, dengan rincian ± 867.789 hektar berada di Provinsi NAD dan ± 226.903 hektar di Provinsi Sumatera Utara.

Taman Nasional Gunung Leuser yang terbentang luas mengikuti gugusan pegunungan bukit barisan dan merupakan kawasan konservasi yang memiliki perwakilan ekosistem lengkap, mulai dari hutan pantai, hutan dataran rendah, hutan pegunungan, dan danau yang relative masih utuh dengan kelimpahan satwa – satwa langka dan endemik. Potensi keanekaragaman hayatinya yang memiliki nilai konservasi global, UNESCO menetapkan kawasan ini sebagai cagar biosfer, dan Cluster Natural World Heritage Site, sedangkan Indonesia – Malaysia menetapkan kawasan Leuser sebagai sister park dengan Taman Nasional Malaysia.

Kawasan ini juga merupakan kawasan tangkapan air bagi banyak sungai – sungai besar di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan juga Sumatera Utara. Sistem hidrologi kawasan ini secara keseluruhan merupakan sistem pengairan terpenting di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara, khususnya Kabupaten Aceh Tenggara, Karo, dan Mangkat

Kondisi fisik :

  • Geologi

Bagian utara kawasan Taman Nasional Gunung Leuser adalah Pegunungan Leuser Simpoli yang terbentuk dari formasi “munkap mata-sedimen dan Glanalei” yang diperkirakan berasal dari Periode Permo-Carnoniferus dan baru sedikit yang mengalami pelapukan. Jenis batuannya antara lain : Phylite hitam dan kelabu, metasilstone, meta-sandstone,fine graned quaztzite, dan marble. Jenis batuan yang terdapat di sekitar lembah alas, gugusan bendara dan jalur kluet – rameh, antara lain : guartzbiolite schists bended, gneiss, cucocratic,fine granular gneiss, amphibolete, banded, dan massive marble. Formasi alas barat diperkirakan berasal dari Periode Nesozoic dengan jenis batuan blackshale to slate, siltstone, hard sand stone, minor grey wache, conglomerate, banded, dan massive limestone dan dolomite, serta chert.

  • Tanah

Minimal terdapat 11 macam jenis tanah, tiga jenis diantaranya mendominir kawasan ini, yaitu kompleks podsolik coklat, podsolik dan litosol (38,41%), kompleks podsolik merah kuning latososl dan litosol (31,97%), serta andosol (13,76%).

Jenis – jenis tanah tersebut mencakup organosol dan gleihumus, regosol, podsolik merah  kuning (batuan endapan), podsolik merah kuning (batuan alluvial), regosol, andosol, litosol, podsolik merah kuning (bahan endapan dan batuan beku), kompleks podsolik merah kuning latosol dan litosol, kompleks podsolik coklat, podsolik dan litosol, serta kompleks resina dan litosol.

  • Topografi

Kawasan taman nasional berada di kawasan pegunungan yang berbukit dan bergelombang. Sebagian kecil saja areal yang berupa dataran rendah, yaitu daerah sekundur-langkatdi pantai timur dan daerah kluet di pantai barat. Berbagai elemen morfologi terlihat nyata, seperti rangkaian pegunungan dengan berbagai lipatan patahan dan rengkahan, gugusan bukit terjal dan bergelombang, gunung – gunung, kubah – kubah, dataran tinggi, plato, celah, lembah, jurang, lereng, dataran rendah, pantai, komples, dan aliran sungai dengan berbagai bentukan dan sistem pola sungai dengan cabang – cabangnya. Di taman nasional ini sedikitnya terdapat 33 bukit atau gunung dan ada beberapa yang belum tercatat. Salah satu puncak tertinggi disini adalah puncak Gunung Leuser, yaitu 3.149 mdpl.

  • Iklim

Berdasarkan klasifikasi Schmidt-Ferguson termasuk tipe  iklim A dimana musim kemarau terjadi pada bulan Maret sampai dengan Agustus dan musim hujan pada bulan September sampai dengan Februari. Curah hujan rata – rata berkisar antara 1.00 sampai dengan 3.000 mm pertahun. Suhu rata – rata minimum berkisar antara 230 – 250 C dan rata – rata maksimum 300 – 330 C, serta kelembaban udara relatif antara 65% – 75%.

  • Hidrologi

Hidrologi dikawasan dicirikan oleh sungai panjang, yaitu Sungai Alas dan oleh anak – anak sungai yang berhulu dari banyak gunung diantaranya Gunung Leuser, Gunung Kemiri, Gunung Bendahara, dan Gunung Parkinson. Anak – anak sungai ini bermuara ke Samudera Indonesia atau ke Selat Malaka. Secara garis besar terdapat beberapa daerah aliran sungai (DAS) yang airnya berasal dari kawasan Taman Nasioanl Gunung Leuser, yaitu DAS :

1. Bakongan , Krueng Kluet, Krueng Baro, Krueng Susoh, Krueng Bate, Dan Krueng Tripa.

  1. Krueng Tripa dan Lesten
  2. Lesten/Jampur/Tamiang

4. Sekundur/Besitang, Sei Lepan, Sei Batang Serangan, Sei Musam, Sei Bahorok, Sei Berkail, Sei Wampum, Sei Bekular, dan Sei Bingei

5. Waihni Gumpang, Waihni Marpunga, Lawe Ketambe, Lawe Kompas, dan Lawe Bengkung

Disamping keberadaan sungai – sungai tersebut, di kawasan ini juga terdapat dua buah danau kecil, yaitu Danau Laot Bangkoyang terdapat didaerah kluet (10 ha) dan Danau Marpunga (6 ha) di daerah Marpunga. Beberapa lokasi air panas juga ditemukan disini, seperti di Lawe Geger (hutan lindung sarbolangit), dan Kappi serta lokasi air bergaram yang merupakan tempat pengasinan satwa liar (di Alas, Kappi dan Leuser, serta Muara Renun).

  • Biotik

Taman Nasional Gunung Leuser memiliki penyebaran vegetasi yang lengkap, mulai dari vegetasi hutan pantai/rawa, hutan dataran rendah, hutan dataran tinggi, dan hutan pegunungan. Kawasan ini hampir seluruhnya ditutupi oleh lebatnya hutan Dipterocarpaceae. Ekosistem dominan adalah hutan tropis basah. Van Steenis membagi wilayah tetumbuhan di kawasan ini atas 3 zona, yaitu :

  1. Zona tropika (500 – 1.000 mdpl); merupakan daerah berhutan lebat yang ditumbuhi berbagai jenis tegakan berdiameter besar yang tingginya bisa mencapai 40 meter, serta berbagai jenis liana dan epifit yang menarik seperti anggrek.
  2. Zona montane (1.000 – 1.500 mdpl); merupakan hutan montane dengan tegakan kayu yang tidak terlalu tinggi, yaitu sebesar antara 1- 20 m, banyak dijumpai lumut yang menutupi tegakan kayu atau pohon, dengan kelembaban udara yang tinggi.
  3. Zona sub alpine (2.900 – 4.200 mdpl); merupakan zona hutan ercacoid yang tidak berpohon lagi, dimana vegetasinya merupakan campuran dari pohon – pohon kerdil dan semak – semak serta beberapa jenis tundra, anggrek, dan lumut
  • Flora

Kawasan Gunung Leuser diperkirakan memiliki 3.000 – 4.000 jenis tumbuhan, terutama di  hutan – hutan dataran rendah dibawah 300 mdpl. Diantaranya terdiri dari jenis kayu komersial, pohon buah – buahan, rotan (74 jenis), palm, jenis tanaman obat, bambu – bambuan.

Kayu komersial terdiri dari Family Dipterocarpaceae terdapat 95 jenis, antara lain meranti, keruing, shorea, dan pohon kapur (Flacaortia rukem), dan rambutan (Nephelium lappaceum).

Jenis lainnya, antara lain rotan (74 jenis dan merupakan plasma nutfah penting bagi kawasan ini), palm daun sang (Johannesteijsmania altifrons) yang merupakan jenis yang hanya terdapat di daerah langkat, tanaman obat – obatan (kemenyan dan kayu manis), beberapa jenis bunga raflesia (rafflessia cropylosa, R. atjehensis, R. hassetii), dan Rhizanthes zippelni yang merupakan bunga terbesar yang berdiamater 1.5 meter, serta berbagai tumbuhan pencekik (ara).

  • Fauna

Terdapat 34 ordo, 144 famili, dan 717 jenis dimana 89 jenis diantaranya termasuk jenis satwa langka yang tidak terdapat di taman nasional lain. Beberapa satwa yang hidup di taman nasional ini, yaitu :

  1. Mamalia ; antara lain orangutan (Pongo pigmaeus), serudung (Hylobates lar), kedih (Presbytis thomasi), siamang (Hylobates sindactylus), musang congkok (Prionodon linsang), kukang (Nycticebus coucang), kucing emas (Felis temmincki), pulusuan (Arctonix collaris), bajing terbang (Lariscus insignis), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), ajak (Cuon alpines), harimau dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus), gajah sumatera (Elephas maximus), rusa (Cervus unicorn), kijang (Muntiacus muntjak), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), kambing hutan (Carpicornis sumatraensis), tapi (Tapirus indicus),
  2. Burung ; antara lain kuntul kerbau (Bubulcus ibis), kuntul (Egretta sp), itik liar (Cairina sp), rajawali kerdil (Microhierax sp), rangkong (Buceros bicornis), julang ekor abu – abu (Annorhinus gaeleritus), julang emas (Rhiticeros undulatus), kangkareng (Anthracoceros convextus), dan beo nias (Gracula religiosa).
  3. Reptil ; antara lain buaya muara (Crocodilus porosus), penyu belimbing (Dermochelys sp), kura – kura gading (Orlitia borneensis), dan senyulong (Tomistoma sp).