Taman Nasional Bukit Barian Selatan

by R.Larasati

Umum

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan terletak di Provinsi Lampung tepatnya di Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Lampung Barat, serta di Provinsi Bengkulu Kabupaten Kaur. Secara koordinat Taman Nasional Gunung Leuser terletak pada 1030 23’ – 1040 43’ BT dan 040 33’ – 050 57’ LS. Dasar penunjukkan Taman Nasional Gunung Leuser berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 736/mentan/X/1982 pada tanggal 14 Oktober 1982. Dan ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 489/Kpts-II/1999 pada tanggal 29 Juni 1999. Luas Taman Nasional ini sendiri secara keseluruhan adalah sebesar ± 355.511 hektar.

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan salah satu dari tiga taman nasional di Sumatera yang mawakili prioritas tertinggi bagi konservasi harimau. Selain itu, kawasan ini juga merupakan satu – satunya taman nasional yang memiliki ekosistem hutan dataran rendah terbesar pada hutan hujan tropis  di Asia Tenggara.

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan memiliki fungsi strategi sebagai kawasan sistem penyangga kehidupan yang perannya sangat penting nagi masyarakat di sekitarnya, karena kawasan ini merupakan daerah tangkapan air. Kawasan ini sedikitnya memiliki 23 sungai besar dan ratusan anak sungai yang mangalirkan airnya ke daerah – daerah hilir di sepanjang pesisir Kabupaten Tenggamus, Kabupaten Lampung Barat, dan kawasan Bengkulu Selatan.

Kondisi Fisik :

  • geologi dan tanah

Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan menurut peta geologi Sumatera yang dibuat oleh Lembaga Penelitian Tanah (1965), terdiri dari batuan endapan (myosin bawah, neogen, paleosik tua, alluvium), batuan vulkanik (recent, kuatener tua, andesit tua, basa intermediet), dan batuan plutonik (batuan asam). Batuan yang tersebar paling luas adalah batuan vulkanik yang berada di bagian tengah dan utara taman nasional.

Berdasarkan peta tanah yang dibuat oleh Lembaga Penelitian Tanah Bogor (1976), tanah dikawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan terdiri dari 6  jenis tanah, yaitu alluvial, rensina, latosol, podsolik merah kuning, dan dua jenis andosol. Tanah yang paling luas tersebar adalah jenis podsolik merah kuning yang mempunyai sifat fisik labil dan rawan erosi.

  • Topografi

Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan terletak di ujung selatan dari rangkaian pegunungan bukit barisan , sehingga mamiliki topografi yang cukup bervariasi yaitu mulai datar, landai, bergelombang, berbukit – bukit curam bergunung – gunung dengan ketinggian berkisar antara 0 – 1964 mdpl. Lereng timurnya cukup curam sedangkan lereng barat kearah Samudera Hindia agak landai. Berdasarkan peta lereng dan kemampuan tanah Provinsi Lampung, kawasan taman nasional ini merupakan daerah yang labil karena terletak pada zona sesar utama Sumatera ( zona sesar semangka).

Daerah berdataran rendah (0 – 600 mdpl) dan berbukit (600- 1.000 m dpl) terletak di bagian selatan taman nasional sementara daerah pegunungan (1.000 – 2.000 mdpl) terletak di bagian tangah dan utara taman nasional. Puncak tertinggi adalah Gunung Palung (1964 mdpl) yang terlatak di sebelah barat Danau Ranau, Lampung Barat.

Keadaan lapangan bagian utara bergelombang sampai berbukit dengan kemiringan bervariasi antara 20 – 80%. Semakin ke selatan, merupakan daerah yang datar hingga landai dengan beberapa bukit dengan  kemiringan  berkisar antara 3 – 5%.

  • Iklim

Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan kawasan yang dapat menghasilkan keseimbangan iklim. Pengaruh rantai Pegunungan Bukit Barisan Selatan mengakibatkan kawasan ini dua tipe iklim (tipe iklim A di sisi barat taman nasional dan tipe iklim B yang lebih kering di sisi timur taman nasional). Di bagian barat taman nasional curah hujannya cukup, yaitu berkisar antara 3.000 – 3.500 mm per tahun dan bagian timur berkisar antara 2.500 – 3.000 mm per tahun.

Musim hujan berlangsung dari bulan November sampai Mei, musim kemarau dari bulan Juni sampai Agustus, serta bulan agak kering September sampai Oktober. Jumlah hari hujan di musim penghujan rata – rata tiap bulannya 10 -16 hari dan musim kemarau 4 – 8 hari. Keadaan angin musim hujan lebih besar dari musim kemarau dan taman nasional mempunyai kelembaban udara antara 80% sampai 90% dan temperatur berkisar antara 200C – 280C.

  • Hidrologi

Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan bagian hulu dari sungai – sungai yang mengalir ke daerah pemukiman dan pertanian di daerah hilir sehingga berperan sebagai daerah tangkapan air dan melindungi sistem tata air (hidro urologi).

Sebagian besar sungai mengalir kea rah barat daya dan bermuara ke Samudera Indonesia, sementara sebagian lagi bermuara ke Teluk Semangka. Sungai – sungai yang mengalir dibagian utara taman nasional terdiri dari Way Nasal Kiri, Way Nasal Kanan, Way Menula, Way Simpang, Dan Way Laii. Sungai – sungai yang mengalir di bagian tengah taman nasional terdiri dari Way Tenumbang, Way Biha, Way Marang, Way Ngambur Bunuk, Way Tembuh, Way Ngaras, Way Pintau, Way Pamerihan, Way Semong, Dan Way Semangka. Sementara di bagian selatan mengalir Way Canguk, Way Sanga, Way Menanga Kiri, Way Menanga Kanan, Way Paya, Way Kejadian, Way Sulaeman, Dan Way Blambangan.

Di bagian ujung selatan taman nasional terdapat danau yang dipisahkan oleh pasir pantai selebar puluhan meter, yaitu Danau Menjukut (150 ha). Di bagian tengah, yaitu di daerah Suoh terdapat empat danau yang letaknya berdekatan, yaitu Danau Asam (160 ha), Danau Lebar (60 ha), Danau Minyak (10 ha), dan Danau Belibis (3 ha). Sementara bagian tenggara, selatan, dan bagian barat taman nasional dikelilingi oleh perairan Teluk Semangka, Tanjung Cina, dan Samudera Hindia.

  • Biotik

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan mempunyai potensi keragaman hayati yang sangat tinggi, hingga saat ini telah teridentifikasi 200 jenis pohon, 126 jenis anggrek, 17 jenis rotan, dan 15 jenis bamboo. Sedangkan kekayaan fauna kawasan ini sekitar 83 jenis mamalia, 300 jenis burung, 59 jenis herpetofauna, dan 51 jenis ikan. Tipe ekosistem di taman nasional bukit barisan selatan meliputi :

  1. Hutan pantai kira – kira 1% dari luas kawasan (3.568 ha),
  2. Hutan hujan dataran rendah (0 – 500 mdpl) meliputi 45% (160.560 ha),
  3. Hutan hujan bukit (500 – 1.000 mdpl) kurang lebih 34% (121.312 ha),
  4. Hutan hujan pegunungan bawah kurang lebih 17% (60.656 ha), dan
  5. Hutan hujan pegunungan atas kurang lebih 3% (155.208 ha).
  • Flora

Secara umum telah terindenti 514 jenis pohon dan tumbuhan bawah, dengan jenis dominan Family Dipterocarpaceae, Euphorbiaceae, Lauraceae, Myrtaceae, Fagaceae, Annonaceae, dan Meliaceae. Disamping itu terdapat sedikitnya 15 jenis bambu dari lima marga, yaitu Bambusa, Dendrocalamus, Dinochloa, Gigantochloa, dan Schizatochhylum, 26 jenis rotan serta 126 jenis anggrek dari 59 genus yang beberapa di antaranya telah dibudidayakan, yaitu anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis), anggrek kalung (Caelogyne dayana), dan anggrek merpati (Dendrobium crumenatum).

Sebanyak 157 jenis tumbuhan di taman nasional ini dapat digunakan  sebagai tanaman obat, seperti pasak bumi (Eurycoma longifolia), dan pulai (Alstonia scloraris). Taman nasional ini juga merupakan habitat bagi jenis – jenis tumbuhan berbunga yang unik, langka, dan masih ada dalam proses evolusi, yaitu bunga raflesia (Rafflesia sp) dan dua jenis bunga bangkai Amorphaphallus titanium dan A. deculsilvae.

Vegetasi yang umum dijumpai di lahan basah dan pesisir adalah terminalia cattapa, hibiscus sp, dengan jenis tumbuhan bawah diantaranya urophyllum sp, phrynium sp, pandanus sp, dan ficus septic.

Hutan hujan dataran rendah didominasi oleh Family Dipterocarpaceae, Lauraceae, Myrtaceae, dan Annonaceae dengan tumbuhan bawah neolitsia cassianeforia, psychotria rhinocerotis, areaca sp, dan globba pendella.

Hutan hujan pegunungan bawahnya dihuni oleh jenis – jenis dari keluarga Lauraceae, Myrtaceae, Dipterocapaceae, dan Fagaceae, seperti magnolia sp, quercus sp, dan garcinia sp. hutan hujan pegunungan tingginya didominasi oleh Eugenia sp dan castonopsis sp

Jenis – jenis seaweed ditemukan di Pesisir Selatan Sumatera, seperti sargasum gracillum, S. echinocarpum, achanthora specifesa, hypnea musciformis, dan turbinaria ornate, sementara seaweed jenis thallasis sp hidup di sepanjang Teluk Belimbing.

Kawasan taman nasional ini juga merupakan habitat penting bagi berbagai jenis tumbuhan yang memiliki pemanfaatan tradisional seperti jenis penghasil getah dammar mata kucing (shorea javanica), dammar batu (S. ovalis), dan jelutung (Dyera costulata). Selain itu terdapat 11 flora endemik Sumatera yaitu Bacaurea multiflora, Madhuca magnifolia, Memecylon Multiflorum, Drypetes subsymetrica, Drypetes simalurensis, Ryparosa multinervosa, dan lain – lain.

  • Fauna

Terdapat sedikitnya 90 jenis mamalia termasuk 7 jenis primata serta 322 jenis burung termasuk 9 jenis rangkong, 51 jenis ikan, dan 52 jenis herpetofauna (reptil dan amfibi) hidup di kawasan ini.

Mamalia : antara lain badak sumatera (Dicerorhinus sumatraensis), harimau sumetera (Panther tigris sumatraensis), ajag (Cuon alpines), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), rusa sambar (Cervus unicolor), kancil (Tragulus javanicus), kerbau hutan (Bubalus bubalis), tapir (Tapirus indicus), beruang madu (Helarctos malayanus), ungko (Hylobates agilis), siamang (H. syndactylus), simpai (Presbytis melalophos fuscamurina), cecah (Presbytis melalophos), tarsius (Tarsius bancanus), dan kalong (Pteropus vampyrus).

Burung : kuau kerdil (Polyplectron chalcurum), pitta raksasa (Pitta caeurella), dan jenis burung yang dilaporkan tidak pernah ditemukan sejak tahun 1916 yaitu jenis tokhtor sunda (Tarpococix viridis).

Reptil : penyu sisik (Eretmochelys imbricate), penyu hijau (Chelonian mydas), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea).