Bagai peribahasa ‘tukang yang menyalahkan alatnya’

by R.Larasati

Kemarahan akhir – akhir ini membuat saya berpikir : “hormon yang mengendalikan kemarahan saya begitu tidak terkendali” . persis seperti peribahasa ‘ tukang yang menyalahkan alatnya’ . marah perasaan yang normal bagi manusia biasa seperti salah, tapi normalkah jika bahkan hal – hal kecil membuat saya begitu marah? . dimulai dari sms seseorang yang mengaku kurang tidur sehingga mengirim sms yang begitu mengesalkan buat saya dihari selasa (15 februari 2011), setelah sehari berlalu masalah pun selesai . dua hari setelah kemarahan pertama di minggu ini (17 februari 2011) kemarahan itu muncul lagi saat seseorang yang sama mengirimkan sesuatu di FB yang sangat menyinggung saya. sampai hari ini (18 februari 2011) masalah itu belum terselesaikan, namun masalah lain membuat saya bertambah marah. hari ini dengan kesiapan dan keberanian yang jarang – jarang terjadi, saya pergi ke kampus dan berharap dosen yang ingin saya temui ada. dan hasil akhirnya saya kecewa karena dosen itu tidak ada ditempatnya. dosen itu begitu sulit ditemui, bahkan sms – sms yang telah dikirim tidak ada yang berbalas. kecewa. tapi yang menjadi pertanyaan, hal – hal kecil seperti itu biasanya dapat saya redam dan tidak menjadi kemarahan yang menjadi – jadi seperti sekarang . aneh , merasa sedikit aneh ya saya rasakan, berusaha mencari nilai positif dari kemarahan – kemarahan ini , tapi apa ya? alu teringat kata – kata pak mario teguh : “hanya seorang pemarah yang bisa betul – betul bersabar seseorang yang tidak bisa merasa marah tidak bisa disebut penyabar, karena dia hanya tidak bisa marah, sedangkan seorang lagi yang sebetulnya merasa marah, tetapi mengolah kemarahannya untuk berlaku baik dan adil adalah seorang yang berhasil menjadikan dirinya bersabar”. setidaknya sekarang saya tau saya adalah orang yang pemarah, masih ada kesempatan untuk saya menjadi seorang penyabar dengan belajar mengolah kemarahan – kemarahan saya. amien yan Allah , beri hamba kekuatan untuk terus berlaku sabar.